Etania: Kisah Sekolah Anak Buruh Migran Indonesia

“Fransiskus tidak masuk sekolah beberapa hari ini. Mungkin sedang bersembunyi dari kejaran petugas imigrasi” –Salah satu guru Sekolah Migran Etania

Fransiskus (11) anak dari pasangan WNI yang menjadi buruh imigran di Sabah untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Fransiskus lahir di Sabah tanpa kewarganegaraan yang jelas sebab tidak mendapatkan akte kelahiran baik dari Indonesia maupun Malaysia.

(Fransiskus dan teman sekolahnya di Etania)

Fransiskus tidak bisa sekolah sebab anak dengan kependudukan ilegal tidak dapat diterima di sekolah lokal manapun. Hingga akhirnya ia mendapatkan kabar adanya sekolah untuk para imigran Indonesia yang ada di Sabah, Sekolah Etania.


(Anak-anak buruh migran sedang beraktivitas di Etania)

Disekolah ini, ia bersama 600 anak buruh imigran lainnya yang tersebar di 6 lokasi dapat belajar. Sekolah ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi rasa para anak buruh imigran.

“Kalau tertangkap (razia) mereka dimasukan ke “rumah merah” seperti penjara untuk ilegal migran. Setelah 3 bulan mereka dikirim ke pulau Nunukan” –Ibu Kathryn.

Inilah sedikit kegelisahan yang mereka rasakan sebagai migran.

Mereka ingin kembali ke tanah airnya namun mereka masih terlalu kecil untuk pergi seorang diri. Mereka akan terlantar dan tidak tau harus tinggal dimana, karena semua keluarga mereka hidup di Sabah.


Untuk itu sekolah Etania memberikan bekal ilmu dan ijazah. Sehingga ketika kembali ke tanah air, mereka mampu bekerja ataupun melanjutkan pendidikan serta mengejar cita-cita mereka.

Sejak berdiri pada tahun 2009, Etania kini dipercaya mengelola lebih dari 600 anak buruh migran di Sabah, Malaysia. Sayangnya ruang belajar Sekolah Etania yang merupakan bangunan semi permanen terbuat dari papan kayu ini sangat terbatas daya tampungnya.

Saat ini Kami sedang berikhtiar membangun ruang kelas Sekolah Etania yang lebih layak dan mampu menampung lebih banyak anak buruh migran Indonesia. Namun, belum juga kunjung selesai karena terkendala masalah biaya.

(Pembangunan Kelas Etania yang terhambat)

(Pembangunan Kelas Etania yang terhambat)

Karena itu kami mengajak Bapak/Ibu untuk ikut mewujudkan harapan kecil anak-anak buruh Migran Indonesia akan ruang kelas yang lebih layak dengan berdonasi melalui Kitabisa.

Fransiskus dan 600 anak buruh migran Indonesia lainnya di Sabah kini membutuhkan uluran tangan Anda, agar mereka mampu menyambung mimpi mereka.

Salurkan donasi Anda melalui Kitabisa dengan cara klik “Donasi Sekarang” agar Fransiskus dan temen-temannya bisa belajar dengan layak.

Salam Kita Bisa,

Romy Cahyadi

Info lebih lanjut bisa hubungi [email protected] atau [email protected],

Comments

Fransiskus dan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Sabah, Malaysia ingin sekolah. Yuk bantu sekolah Etania mewujudkannya.

Admin

$0.00 terkumpul dari $30,000.00 Target

0%
  • -263 Hari lagi
  • 0 Donatur